Kamis, 26 April 2018

HAMID ANJAR KASIH-IAIN SURAKARTA



Nama   : Hamid Anjar Kasih
Nim     : 175231125
Kelas   : PBS 2 D
Pondok Pesantren Salafiyah Nurudh Dholam IV
            Pada tugas mata kuliah Metodologi Studi Islam kali ini , kami diberi tugas untuk melakukan live in atau menginap disebuah pondok pesantren yang ada di daerah Klaten atau di Wonogiri . Banyak sekali pondok pesantren yang berada di daerah Klaten dan wonogiri , diantara dua daerah tersebut kami lebih memilih pondok pesantren yang ada di daerah Klaten karena jarak pondok pesantren yang ada di Klaten lebih dekat dengan kampus dari pada pondok pesantren yang ada di daerah Wonogiri . Kelompok kami sebelumnya sudah melakukan survey di dua pondok pesantren yang ada di daerah Klaten , yaitu pondok pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti yang beralamat di daerah Sumberejo Wangi kecamatan Karanganom kabupaten Klaten dan di pondok pesantren Al Munawwir yang beralamatkan di daerah Kadilajo kecamatan Kalinongko Kabupaten Klaten .
            Dari dua survey tempat tersebut , kami diterima dan dipersilahkan untuk melakukan kegiatan live in di sana . Namun sebelum kami melakukan live in , di pondok pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti sudah ada 2 kelompok yang live in disana . Sehingga kelompok kami harus mencari pondok pesantren lain untuk ditempati , kelompok kami sempat berpikir untuk live in di Pondok pesantren Al Munawwir . Akan tetapi setelah dirundingkan kembali , kami tidak jadi untuk melakukan live in di Al Munawwir karena jaraknya yang sangat jauh . Kemudian kami mencari Pondok pesantren lain yang berada di dekat Pondok pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti yaitu Pondok pesantren Ibnu Abbas , Kami sempat bernegosiasi dengan salah seorang pengurus pondok pesantren disana  . Namun kami mendapat kendala yaitu tentang masalah perizinan untuk melakukan live in disana , kami mendapatkan informasi jika ingin melakukan live disana harus memasukkan surat izin yang harus mendapat persetujuan dari Pondok pesantren yang ada di pusat dan itu juga membutuhkan waktu yang cukup lama.
            Akhirnya kami mencari Pondok pesantren lain yang berada di daerah Ceper , Pondok pesantren itu bernama Pondok pesantren Salafiyah Nurudh Dholam IV yang beralamat di Ngaran Rt 1 Rw 3 Kecamatan Ceper kabupaten Klaten . Pondok pesantren Nurudh Dholam IV didirikan dan dipimpin oleh Badarudin Zahid Bsc,KH dan didirikan pada tahun 1993 . Pondok pesantren ini merupakan cabang ke empat dari Pondok pesantren Nurudh Dholam yang ada di Bangil Pasuruan, Cabang ke 2 ada di Bangle Gunung Gangsir Beji Pasuruan Jawa Timur, PP Salafiyah Nurudh Dholam III di Oro-oro Jipang Ngoro Mojokerto Jawa Timur, Dan yang terakhir adalah PP Salafiyah Nurudh Dholam IV yang ada di Klaten .
            Nama “Nurudh Dholam”yang artinya “cahaya (di) kegelapan” tidak terlepas dari latarbelakang berdirinya pesantren . Cikal bakal pesantren Nurudh Dholam Klaten ini berawal dari kisah ketaatan dan kesalehan H Zahid dan Hj Ruqoyyah, orang tua  Badaruddin yang sehari-harinya menjadi pedagang di Pasar Klewer Solo. Mereka merasa kesulitan untuk menunaikan ibadah shalat Magrib sebelum sampai di rumahnya di Sudimara Trucuk pada waktu senja, karena  baru sampai di kawasan Pertigaan Mlese Ngaran, sementara masjid dan mushola amat jauh dari situ. Oleh karenanya, mereka sering menumpang shalat Magrib di rumah seorang penduduk bernama H. Mudatsir. Dari situlah timbul keinginan untuk membeli sebidang tanah untuk membangun mushola di kawasan itu.
Pada tahun 1982, saudara KH. Badaruddin yaitu: Hj Siti Al-Fiyah dan H. Muqorrobin berencana menunaikan ibadah haji. Pada mereka, sang ayah menitipkan pesan untuk berdoa di Masjidil Haram Mekkah dan Masjid Nabawi agar keinginan beliau membeli tanah untuk dibangun mushola segera dikabulkan oleh Allah. Tak perlu waktu lama usai pulang dari haji, ternyata akibat devaluasi mata uang rupiah mereka masih memiliki sisa uang saku haji sehingga dapat membayar uang muka pembelian tanah. Mushola itu sendiri baru dapat dibangun pada tahun 1987, setahun setelah H. Zahid meninggal dunia.
Pada waktu H. Zahid meninggal dunia (1986), Pengasuh PP Al-Ihya Mulyadadi Cilacap yaitu KH Qodiron Al-Hasani (Guru dari KH Badaruddin) datang bertakziyah. Selain itu, beliau diajak oleh KH Badaruddin untuk melihat tanah yang dibeli oleh ayahnya. Pada waktu itu sang guru berpesan kepada KH Badaruddin untuk mendirikan pesantren di situ. “Siapa yang akan mondok disini nantinya. Orang-orang di sekitar sini jarang ada yang belajar di pondok salaf,” kata KH Badaruddin waktu itu. Siapa sangka bila beberapa tahun kemudian -termasuk dengan bantuan doa melalui tirakat atau riyadhah yang dilakukan sang guru, pondok ini berkembang  pesat dan memiliki santri yang 80 persen pendatang dan bukan berasal dari Klaten saja.
Jalan merintis pesantren semakin lapang dan terbuka ketika KH Badaruddin menikahi putri ketiga pengasuh Nurudh Dholam Bangil, Hj Kunti Fatimah Zahro pada tahun 1992. Bu Kunti pernah mondok di Pesantren Darussalam Sumbersari Kencong Pare Kediri yang diasuh oleh KH Imam Faqih Asy`ari, dimana beliau juga pernah menjadi murid Ibu Hj.Raihanah Faqih, guru kelasnya yang juga menjadi program peserta PUP angkatan ke-2 wilayah Jawa Timur. Pernikahan KH. Badaruddin dan Hj.Kunti Fatimah Zahroh ini dikaruniai 5 putra-putri: 1) Abdurrohman Al-Hasani; 2) Kunti Naela Hamidah; 3) Kunti Muqtaniyatul Ulum; 4) Mushthofa Zuhad Al-Wilhani; 5) Shinta Muhsinah Qothrun Nada.
Saat beberapa bulan pernikahannya dulu, pasangan ini oleh KH.Anwar Siroj dibekali dengan dua orang santri yang menjadi rintisan awal keberadaan pondok pesantren yang berlokasi di Dusun Ngaran Desa Mlese Kecamatan Ceper Kabupaten Klaten yang  berjarak  sekitar 30 km dari Yogyakarta maupun Solo yang awal pembangunannya dimulai tahun 1996 ini. Waktu itu, KH Anwar Siroj menugaskan sekitar tujuh santrinya dari Nurudh Dholam Bangil untuk membantu proses pembangunan pondok di lokasi dekat mushola. Pendanaan pembangunannya dibantu oleh KH Haryono Sonto Pawiro Jatingaleh Semarang yang merupakan bapak angkat dari KH Badaruddin dan Nyai Hj Kunti Fatimah Zahro.
Pesantren Nurudh Dholam Klaten memiliki visi Alim, Shaleh, dan Kafi. Alim, berarti mampu membaca, memahami Alquran dan kitab-kitab salaf. Lalu shaleh berarti bisa menempatkan hak-haknya sebagai hamba dengan hak-hak Penciptanya, Allah swt, dan menempatkan hak-hak sesama manusia serta hak-haknya dengan alam semesta. Dan tak kalah penting ialah Kafi yang berarti santri yang cakap, profesional dan mandiri atau “Jolo Sutro”. Kegiatan pendidikan yang ada di pesantren meliputi antara lain madrasah diniyah, pendidikan Tahfidz Alquran (membaca dan menghafal Alquran), dan pengajian kitab kuning. Disamping pendidikan ilmu agama, para santri juga dibekali dengan berbagai ketrampilan seperti tata boga sesuai dengan visi Kafi yang dipegang teguh untuk mencetak santri yang mandiri.
Secara khusus pesantren ini fokus pada pendidikan Tahfidz Alquran. Namun, para santri juga belajar pengetahuan agama melalui berbagai pengajaran kitab-kitab kuning yang umum dipelajari di pesantren salaf maupun ketrampilannya yang di antaranya adalah tata boga. Yang khas dari pesantren ini, karena mayoritas santrinya adalah perempuan, maka sejumlah gedung dan bangunan aula pesantren yang ada dibangun oleh para santri putri. Mulai membangun pondasi batu bata, mengecor, plester, membelah batu, dan lain-lain. Selain membangun kamar mandi dan sumur sendiri yang digunakan hingga kini, para santri putri yang mandiri ini seringkali turut memanen padi di sawah milik pengasuh yang terletak di Desa Sribit.
Kini jumlah santri di Ponpes berjumlah sekitar 30 an , dari berbagai macam usia mulai dari dewasa , lulus SLTA , SMP , dan SD . Kitab yang dipelajari di Ponpes ini bermacam-macam , ada kitab Nahwu dan Soroh . Pada pukul 8 pagi , dilaksanakan kegiatan setoran hafalan Al Qur’an . Santri diniyah ada yang bisa menulis huruf Arab dan ada yang sudah bisa bahasa Arab pegon , Santri di Ponpes ini rata-rata tidak sekolah . Jadi kebanyakan santri di Ponpes ini seharian penuh berada di Ponpes , jam 11 siang biasanya diadakan kegiatan diniyah , namun juga ada yang setelah dzuhur . Jam 5 sore , santri SD melaksanakan kegiatan diniyah . Untuk kelas yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar biasanya dipisah , kadang di aula dan kadang di bangunan belakang . Setiap malam selalu melaksanakan kegiatan mengkaji kitab Jalalain , kecuali hari Selasa dan Jum’at . Metode pengajaran ngaji yang digunakan di Ponpes ini menggunakan metode Bandungan , untuk sorogan nya diberikan ketika diniyah . Nahwu yang paling tinggi di Ponpes ini yaitu Imriti , Pengajar santri berasal dari dalam Ponpes sendiri , Jadi tidak mendatangkan guru dari luar . Pengurus Ponpes ini kebanyakan adalah anak-anak putri , ada juga laki-laki yang berjumlah hanya sekitar 6 orang .
Tujuan dari Ponpes ini sendiri yaitu untuk Kalimatillah , bukan untuk bisnis . Alumni dari Ponpes sudah banyak , tahfidzul Qur’an berjumlah sekitar 40 an meski sekarang santrinya berjumlah sekitar 30 an . Di Ponpes lain dalam pembelajaran diniyah , dulu ada kitab pegon , namun sekarang hanya terjemahannya saja . Hanya pesantren salaf saja yang memaknai arab pegon , itupun masih dibawah naungan Nahdatul Ulama . Di Ponpes yang ada di daerah Solo , hanya Ponpes Al Muayyad saja yang masih menggunakan makna pegon . Untuk pendidikan di Madrasah , kitab yang dipelajari minimal Fiqih yang menggunakan Taqrib , Kitobah , Al Barjanji , Manaqin , Dzikir dan Tahlil . Hubungan antara Ponpes dengan masyarakat terjalin baik , Ponpes membina jamiah dari luar / sekitar Ponpes . Untuk sistem kelulusan pembelajaran yaitu apabila belum Hafidz , maka dinyatakan belum lulus . Namun Tidak semua harus Tahfidz , akan tetapi apabila sudah binadhor atau khatam biasanya sudah diboyong . Setelah 10 tahun Ponpes berdiri , sekitar 10 orang disekitar Ponpes ada yang ikut mengaji di Ponpes ini . Biasanya setiap malam minggu , namun sekarang sudah tidak ada karena sudah khatam .
Kamar yang digunakan yaitu berjumlah 3 yang ada diatas dan 4 dibelakang , santri putra yang menempati kamar belakang . Untuk biaya pendaftaran masuk Pondok tidak sampai 300 ribu per bulan , dengan membayar uang bulanan kurang dari 300 ribu itu sudah mendapatkan makan 2x sehari . Peraturan di Ponpes yaitu santri tidak boleh keluar dari Ponpes , apabila ingin keluar harus izin dulu kepada pengurus atau pengasuh pondok . Dan peraturan yang kedua yaitu tidak boleh membawa hp , karena hp dapat mengganggu pembelajaran para santri . Kegiatan hari ini yaitu mengaji Al Qur’an bada isya dan malam nya dilanjutkan dengan pengajian kitab Qikam untuk alumni santri disekitar Solo raya yang berada di Boyolali , Karanganyar dan Sragen . Didalam Ponpes terdapat mushola yang biasa diguanakan untuk kegiatan belajar mengajar dan mengaji para santri . Setiap hari Selasa dan Jum’at malam ada Al Barjanji dan Kitobah , Untuk malam Jum’at ada Munaqih dan membaca kitab Jalalain . Di Ponpes juga ada hadrah dengan menggunakan Al Barjanji . Waktu belajar yang ditentukan di Ponpes itu normalnya Tahfidz sekitar 3 sampai 4 tahun harus sudah lulus atau selesai belajarnya .
Kami berangkat mencari Ponpes pada hari Senin tanggal 12 Maret 2018 waktu siang hari sekitar pukul 13.00 WIB . Kami menuju ke Ponpes Ibnu Abbas sekitar jam 2 siang namun berpindah Ponpes ke Nurudh Dholam pada waktu sore hari tepatnya pukul 3 .  Kami sempat ragu apakah kami dapat diterima dengan baik di Ponpes itu , kami menunggu lama untuk bertemu dengan sang pengasuh Ponpes . Setelah menunggu sekitar 30 menit , Akhirnya kami bertemu dengan sang pendiri sekaligus pengasuh Ponpes yaitu Bp. KH Badaruddin . Kami dijamu dengan baik oleh beliau , ternyata beliau adalah seorang pengasuh yang ramah dan terbuka dengan tamu yang ingin berkunjung ke Ponpes nya . Asalkan tamu itu memiliki niat baik , bertamu dengan cara yang baik dan sopan pasti beliau akan menerima kita dengan baik . Meskipun tidak terlalu luas , namun kami merasakan nyaman dan senang bisa berada didalam Ponpes tersebut . Kami melihat banyak santri anak-anak yang sedang belajar mengaji di Mushola pondok , karena bertepatan dengan jadwal mengaji yaitu sore hari bada Ashar . Kami dipersilahkan masuk dan dijamu dengan secangkir teh hangat oleh salah satu santri putri .
Kami sempat berbincang-bincang cukup lama dengan Bp. KH Badaruddin , meskipun baru berjumpa seakan-akan kami sudah akrab dengan beliau . Ini merupakan sebuah kehormatan untuk kami karena bisa langsung bertemu dan berbincang-bincang dengan seorang Kyai seperti Bp. Badaruddin , Beliau sangat rendah hati dan tidak sombong . Hal itu beliau perlihatkan ketika beliau sedang berbincang-bincang dengan kami . Kami tidak bisa mengambil gambar ketika kegiatan Pondok sedang berlangsung , karena kami mengikuti peraturan Pondok bahwa setiap santri tidak boleh mengaktifkan bahkan menggunakan Hp atau ponsel ketika berada di dalam Pondok . Namun kami bisa mengambil gambar dengan Bapak Kyai ketika kami akan keluar dari Pondok , Bp. Badaruddin pun juga bersedia untuk mengambil gambar dengan kami . Kami belum bertemu dengan istri dari Bp. Badaruddin yaitu Ibu Hj. Kunti Fatimah Zahro. Hj Kunti Fatimah Zahro merupakan salah satu peserta aktif dalam Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP) IV. Pesantren ini pernah menjadi tuan rumah pelaksanaan Tadarus ke-7 PUP Angkatan ke-4 wilayah Jateng-DIY pada Agustus 2014 lalu yang membahas “Pengorganisasian Masyarakat dan Advokasi Sosial” .
Demikianlah sejarah dan hal-hal yang berkaitan dengan Ponpes yang kami pilih atau kami observasi , Jadi kesimpulan yang dapat kita ambil dari Ponpes Salafiyah Nurudh Dholam 4 ini yaitu meskipun kebanyakan santri yang belajar di Ponpes ini para kaum wanita namun mereka diajarkan untuk hidup mandiri . Bukan hanya untuk belajar ilmu agama saja , namun ilmu kehidupan juga diajarkan kepada para santri . Mereka diajarkan untuk bagaimana membangun Pondok , memasak dan lain-lain . Sehingga ketika mereka lulus atau keluar dari Ponpes itu , bisa benar-benar menjadi santri yang mandiri dan tidak kalah dengan kaum laki-laki . Baik dari segi pengetahuan agama dan juga ilmu lainnya , mereka benar-benar menjadi wanita yang kelak bisa menjadi Ibu rumah tangga yang baik . Yang faham akan ilmu agama dan bisa mengasuh anak-anak mereka menjadi anak-anak yang cerdas dan berguna bagi nusa , bangsa dan agama .
Setelah selesai melaksanakan Tugas yang diberikan , saya menjadi lebih tahu dan faham akan kehidupan didalam Pondok pesantren . Saya belum pernah merasakan hidup didalam Pondok , baru kali ini saya bisa merasakan kehidupan didalam Pondok itu seperti apa . Dari kecil sampai dewasa , saya hanya dimasukkan oleh orang tua ke dalam sekolah yang hanya mencakup kegiatan belajar mengajar saja . Dan tidak sampai menginap dan mempelajari ilmu agama secara mendalam , seperti mengkaji kitab kuning , memahami macam-macam kitab , mengkaji Al Qur’an dan lain-lain . Intinya ini adalah pengalaman yang sangat berkesan untuk diri saya , satu hal lagi pengetahuan yang tidak akan saya lupakan yaitu Bp. Badaruddin mengatakan bahwa di Pondok pesantren manapun ada satu pembelajaran yang luntur dan hilang . Pembelajaran tersebut adalah mempelajari arab pegon . Bp. Badaruddin mengatakan bahwa dizaman sekarang , setiap Ponpes menafsirkan Al Qur’an hanya langsung terjemahannya saja dan tidak menggunakan Arab pegon . Itu membuat ilmu yang dipelajari didalam Pondok Pesantren menjadi berkurang .

1 komentar: