Nama : Hamid Anjar Kasih
Nim : 175231125
Kelas : PBS 2 D
Pondok Pesantren
Salafiyah Nurudh Dholam IV
Pada
tugas mata kuliah Metodologi Studi Islam kali ini , kami diberi tugas untuk
melakukan live in atau menginap disebuah pondok pesantren yang ada di daerah
Klaten atau di Wonogiri . Banyak sekali pondok pesantren yang berada di daerah
Klaten dan wonogiri , diantara dua daerah tersebut kami lebih memilih pondok
pesantren yang ada di daerah Klaten karena jarak pondok pesantren yang ada di
Klaten lebih dekat dengan kampus dari pada pondok pesantren yang ada di daerah
Wonogiri . Kelompok kami sebelumnya sudah melakukan survey di dua pondok
pesantren yang ada di daerah Klaten , yaitu pondok pesantren Al Muttaqien
Pancasila Sakti yang beralamat di daerah Sumberejo Wangi kecamatan Karanganom
kabupaten Klaten dan di pondok pesantren Al Munawwir yang beralamatkan di
daerah Kadilajo kecamatan Kalinongko Kabupaten Klaten .
Dari
dua survey tempat tersebut , kami diterima dan dipersilahkan untuk melakukan
kegiatan live in di sana . Namun sebelum kami melakukan live in , di pondok
pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti sudah ada 2 kelompok yang live in disana
. Sehingga kelompok kami harus mencari pondok pesantren lain untuk ditempati ,
kelompok kami sempat berpikir untuk live in di Pondok pesantren Al Munawwir .
Akan tetapi setelah dirundingkan kembali , kami tidak jadi untuk melakukan live
in di Al Munawwir karena jaraknya yang sangat jauh . Kemudian kami mencari
Pondok pesantren lain yang berada di dekat Pondok pesantren Al Muttaqien
Pancasila Sakti yaitu Pondok pesantren Ibnu Abbas , Kami sempat bernegosiasi
dengan salah seorang pengurus pondok pesantren disana . Namun kami mendapat kendala yaitu tentang
masalah perizinan untuk melakukan live in disana , kami mendapatkan informasi
jika ingin melakukan live disana harus memasukkan surat izin yang harus
mendapat persetujuan dari Pondok pesantren yang ada di pusat dan itu juga
membutuhkan waktu yang cukup lama.
Akhirnya
kami mencari Pondok pesantren lain yang berada di daerah Ceper , Pondok
pesantren itu bernama Pondok pesantren Salafiyah Nurudh Dholam IV yang
beralamat di Ngaran Rt 1 Rw 3 Kecamatan Ceper kabupaten Klaten . Pondok pesantren
Nurudh Dholam IV didirikan dan dipimpin oleh Badarudin Zahid Bsc,KH dan didirikan pada tahun
1993 . Pondok pesantren ini merupakan cabang ke empat dari Pondok pesantren Nurudh
Dholam yang ada di Bangil Pasuruan, Cabang ke 2 ada di Bangle Gunung Gangsir Beji
Pasuruan Jawa Timur, PP Salafiyah Nurudh Dholam III di Oro-oro Jipang Ngoro
Mojokerto Jawa Timur,
Dan yang terakhir adalah PP Salafiyah Nurudh Dholam IV yang ada di
Klaten .
Nama “Nurudh
Dholam”yang artinya “cahaya (di) kegelapan” tidak terlepas dari latarbelakang
berdirinya pesantren . Cikal bakal pesantren Nurudh Dholam Klaten ini berawal
dari kisah ketaatan dan kesalehan H Zahid dan Hj Ruqoyyah, orang tua
Badaruddin yang sehari-harinya menjadi pedagang di Pasar Klewer Solo. Mereka
merasa kesulitan untuk menunaikan ibadah shalat Magrib sebelum sampai di
rumahnya di Sudimara Trucuk pada waktu senja, karena baru sampai di
kawasan Pertigaan Mlese Ngaran, sementara masjid dan mushola amat jauh dari
situ. Oleh karenanya, mereka sering menumpang shalat Magrib di rumah seorang
penduduk bernama H. Mudatsir. Dari situlah timbul keinginan untuk membeli
sebidang tanah untuk membangun mushola di kawasan itu.
Pada tahun
1982, saudara KH. Badaruddin yaitu: Hj Siti Al-Fiyah dan H. Muqorrobin
berencana menunaikan ibadah haji. Pada mereka, sang ayah menitipkan pesan untuk
berdoa di Masjidil Haram Mekkah dan Masjid Nabawi agar keinginan beliau membeli
tanah untuk dibangun mushola segera dikabulkan oleh Allah. Tak perlu waktu lama
usai pulang dari haji, ternyata akibat devaluasi mata uang rupiah mereka masih
memiliki sisa uang saku haji sehingga dapat membayar uang muka pembelian tanah.
Mushola itu sendiri baru dapat dibangun pada tahun 1987, setahun setelah H.
Zahid meninggal dunia.
Pada waktu
H. Zahid meninggal dunia (1986), Pengasuh PP Al-Ihya Mulyadadi Cilacap yaitu KH
Qodiron Al-Hasani (Guru dari KH Badaruddin) datang bertakziyah. Selain itu,
beliau diajak oleh KH Badaruddin untuk melihat tanah yang dibeli oleh ayahnya.
Pada waktu itu sang guru berpesan kepada KH Badaruddin untuk mendirikan
pesantren di situ. “Siapa yang akan mondok disini nantinya. Orang-orang di
sekitar sini jarang ada yang belajar di pondok salaf,” kata KH Badaruddin waktu
itu. Siapa sangka bila beberapa tahun kemudian -termasuk dengan bantuan doa
melalui tirakat atau riyadhah yang dilakukan sang guru, pondok ini
berkembang pesat dan memiliki santri yang 80 persen pendatang dan bukan
berasal dari Klaten saja.
Jalan
merintis pesantren semakin lapang dan terbuka ketika KH Badaruddin menikahi
putri ketiga pengasuh Nurudh Dholam Bangil, Hj Kunti Fatimah Zahro pada tahun
1992. Bu Kunti pernah mondok di Pesantren Darussalam Sumbersari Kencong Pare
Kediri yang diasuh oleh KH Imam Faqih Asy`ari, dimana beliau juga pernah
menjadi murid Ibu Hj.Raihanah Faqih, guru kelasnya yang juga menjadi program
peserta PUP angkatan ke-2 wilayah Jawa Timur. Pernikahan KH. Badaruddin dan
Hj.Kunti Fatimah Zahroh ini dikaruniai 5 putra-putri: 1) Abdurrohman Al-Hasani;
2) Kunti Naela Hamidah; 3) Kunti Muqtaniyatul Ulum; 4) Mushthofa Zuhad
Al-Wilhani; 5) Shinta Muhsinah Qothrun Nada.
Saat
beberapa bulan pernikahannya dulu, pasangan ini oleh KH.Anwar Siroj dibekali
dengan dua orang santri yang menjadi rintisan awal keberadaan pondok pesantren
yang berlokasi di Dusun Ngaran Desa Mlese Kecamatan Ceper Kabupaten Klaten yang
berjarak sekitar 30 km dari Yogyakarta maupun Solo yang awal
pembangunannya dimulai tahun 1996 ini. Waktu itu, KH Anwar Siroj menugaskan
sekitar tujuh santrinya dari Nurudh Dholam Bangil untuk membantu proses
pembangunan pondok di lokasi dekat mushola. Pendanaan pembangunannya dibantu
oleh KH Haryono Sonto Pawiro Jatingaleh Semarang yang merupakan bapak angkat
dari KH Badaruddin dan Nyai Hj Kunti Fatimah Zahro.
Pesantren Nurudh
Dholam Klaten memiliki visi Alim, Shaleh, dan Kafi. Alim, berarti mampu membaca,
memahami Alquran dan kitab-kitab salaf. Lalu shaleh berarti bisa menempatkan
hak-haknya sebagai hamba dengan hak-hak Penciptanya, Allah swt, dan menempatkan
hak-hak sesama manusia serta hak-haknya dengan alam semesta. Dan tak kalah
penting ialah Kafi yang berarti santri yang cakap, profesional dan mandiri atau
“Jolo Sutro”. Kegiatan pendidikan yang ada di pesantren meliputi antara lain
madrasah diniyah, pendidikan Tahfidz Alquran (membaca dan menghafal Alquran),
dan pengajian kitab kuning. Disamping pendidikan ilmu agama, para santri juga
dibekali dengan berbagai ketrampilan seperti tata boga sesuai dengan visi Kafi
yang dipegang teguh untuk mencetak santri yang mandiri.
Secara khusus
pesantren ini fokus pada pendidikan Tahfidz Alquran. Namun, para santri juga
belajar pengetahuan agama melalui berbagai pengajaran kitab-kitab kuning yang
umum dipelajari di pesantren salaf maupun ketrampilannya yang di antaranya
adalah tata boga. Yang khas dari pesantren ini, karena mayoritas santrinya
adalah perempuan, maka sejumlah gedung dan bangunan aula pesantren yang ada
dibangun oleh para santri putri. Mulai membangun pondasi batu bata, mengecor,
plester, membelah batu, dan lain-lain. Selain membangun kamar mandi dan sumur
sendiri yang digunakan hingga kini, para santri putri yang mandiri ini
seringkali turut memanen padi di sawah milik pengasuh yang terletak di Desa
Sribit.
Kini jumlah
santri di Ponpes berjumlah sekitar 30 an , dari berbagai macam usia mulai dari
dewasa , lulus SLTA , SMP , dan SD . Kitab yang dipelajari di Ponpes ini
bermacam-macam , ada kitab Nahwu dan Soroh . Pada pukul 8 pagi , dilaksanakan
kegiatan setoran hafalan Al Qur’an . Santri diniyah ada yang bisa menulis huruf
Arab dan ada yang sudah bisa bahasa Arab pegon , Santri di Ponpes ini rata-rata
tidak sekolah . Jadi kebanyakan santri di Ponpes ini seharian penuh berada di
Ponpes , jam 11 siang biasanya diadakan kegiatan diniyah , namun juga ada yang
setelah dzuhur . Jam 5 sore , santri SD melaksanakan kegiatan diniyah . Untuk
kelas yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar biasanya dipisah , kadang
di aula dan kadang di bangunan belakang . Setiap malam selalu melaksanakan
kegiatan mengkaji kitab Jalalain , kecuali hari Selasa dan Jum’at . Metode
pengajaran ngaji yang digunakan di Ponpes ini menggunakan metode Bandungan ,
untuk sorogan nya diberikan ketika diniyah . Nahwu yang paling tinggi di Ponpes
ini yaitu Imriti , Pengajar santri berasal dari dalam Ponpes sendiri , Jadi
tidak mendatangkan guru dari luar . Pengurus Ponpes ini kebanyakan adalah
anak-anak putri , ada juga laki-laki yang berjumlah hanya sekitar 6 orang .
Tujuan dari
Ponpes ini sendiri yaitu untuk Kalimatillah , bukan untuk bisnis . Alumni dari
Ponpes sudah banyak , tahfidzul Qur’an berjumlah sekitar 40 an meski sekarang
santrinya berjumlah sekitar 30 an . Di Ponpes lain dalam pembelajaran diniyah ,
dulu ada kitab pegon , namun sekarang hanya terjemahannya saja . Hanya
pesantren salaf saja yang memaknai arab pegon , itupun masih dibawah naungan
Nahdatul Ulama . Di Ponpes yang ada di daerah Solo , hanya Ponpes Al Muayyad
saja yang masih menggunakan makna pegon . Untuk pendidikan di Madrasah , kitab
yang dipelajari minimal Fiqih yang menggunakan Taqrib , Kitobah , Al Barjanji ,
Manaqin , Dzikir dan Tahlil . Hubungan antara Ponpes dengan masyarakat terjalin
baik , Ponpes membina jamiah dari luar / sekitar Ponpes . Untuk sistem
kelulusan pembelajaran yaitu apabila belum Hafidz , maka dinyatakan belum lulus
. Namun Tidak semua harus Tahfidz , akan tetapi apabila sudah binadhor atau
khatam biasanya sudah diboyong . Setelah 10 tahun Ponpes berdiri , sekitar 10
orang disekitar Ponpes ada yang ikut mengaji di Ponpes ini . Biasanya setiap
malam minggu , namun sekarang sudah tidak ada karena sudah khatam .
Kamar yang
digunakan yaitu berjumlah 3 yang ada diatas dan 4 dibelakang , santri putra
yang menempati kamar belakang . Untuk biaya pendaftaran masuk Pondok tidak
sampai 300 ribu per bulan , dengan membayar uang bulanan kurang dari 300 ribu
itu sudah mendapatkan makan 2x sehari . Peraturan di Ponpes yaitu santri tidak
boleh keluar dari Ponpes , apabila ingin keluar harus izin dulu kepada pengurus
atau pengasuh pondok . Dan peraturan yang kedua yaitu tidak boleh membawa hp ,
karena hp dapat mengganggu pembelajaran para santri . Kegiatan hari ini yaitu
mengaji Al Qur’an bada isya dan malam nya dilanjutkan dengan pengajian kitab
Qikam untuk alumni santri disekitar Solo raya yang berada di Boyolali ,
Karanganyar dan Sragen . Didalam Ponpes terdapat mushola yang biasa diguanakan
untuk kegiatan belajar mengajar dan mengaji para santri . Setiap hari Selasa
dan Jum’at malam ada Al Barjanji dan Kitobah , Untuk malam Jum’at ada Munaqih
dan membaca kitab Jalalain . Di Ponpes juga ada hadrah dengan menggunakan Al
Barjanji . Waktu belajar yang ditentukan di Ponpes itu normalnya Tahfidz
sekitar 3 sampai 4 tahun harus sudah lulus atau selesai belajarnya .
Kami
berangkat mencari Ponpes pada hari Senin tanggal 12 Maret 2018 waktu siang hari
sekitar pukul 13.00 WIB . Kami menuju ke Ponpes Ibnu Abbas sekitar jam 2 siang
namun berpindah Ponpes ke Nurudh Dholam pada waktu sore hari tepatnya pukul 3
. Kami sempat ragu apakah kami dapat
diterima dengan baik di Ponpes itu , kami menunggu lama untuk bertemu dengan
sang pengasuh Ponpes . Setelah menunggu sekitar 30 menit , Akhirnya kami bertemu
dengan sang pendiri sekaligus pengasuh Ponpes yaitu Bp. KH Badaruddin . Kami
dijamu dengan baik oleh beliau , ternyata beliau adalah seorang pengasuh yang
ramah dan terbuka dengan tamu yang ingin berkunjung ke Ponpes nya . Asalkan
tamu itu memiliki niat baik , bertamu dengan cara yang baik dan sopan pasti
beliau akan menerima kita dengan baik . Meskipun tidak terlalu luas , namun
kami merasakan nyaman dan senang bisa berada didalam Ponpes tersebut . Kami
melihat banyak santri anak-anak yang sedang belajar mengaji di Mushola pondok ,
karena bertepatan dengan jadwal mengaji yaitu sore hari bada Ashar . Kami
dipersilahkan masuk dan dijamu dengan secangkir teh hangat oleh salah satu
santri putri .
Kami sempat
berbincang-bincang cukup lama dengan Bp. KH Badaruddin , meskipun baru berjumpa
seakan-akan kami sudah akrab dengan beliau . Ini merupakan sebuah kehormatan
untuk kami karena bisa langsung bertemu dan berbincang-bincang dengan seorang
Kyai seperti Bp. Badaruddin , Beliau sangat rendah hati dan tidak sombong . Hal
itu beliau perlihatkan ketika beliau sedang berbincang-bincang dengan kami .
Kami tidak bisa mengambil gambar ketika kegiatan Pondok sedang berlangsung ,
karena kami mengikuti peraturan Pondok bahwa setiap santri tidak boleh
mengaktifkan bahkan menggunakan Hp atau ponsel ketika berada di dalam Pondok .
Namun kami bisa mengambil gambar dengan Bapak Kyai ketika kami akan keluar dari
Pondok , Bp. Badaruddin pun juga bersedia untuk mengambil gambar dengan kami . Kami
belum bertemu dengan istri dari Bp. Badaruddin yaitu Ibu Hj. Kunti Fatimah
Zahro. Hj Kunti Fatimah Zahro merupakan salah satu peserta aktif dalam
Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP) IV. Pesantren ini pernah menjadi tuan rumah
pelaksanaan Tadarus ke-7 PUP Angkatan ke-4 wilayah Jateng-DIY pada Agustus 2014
lalu yang membahas “Pengorganisasian Masyarakat dan Advokasi Sosial” .
Demikianlah
sejarah dan hal-hal yang berkaitan dengan Ponpes yang kami pilih atau kami observasi
, Jadi kesimpulan yang dapat kita ambil dari Ponpes Salafiyah Nurudh Dholam 4 ini
yaitu meskipun kebanyakan santri yang belajar di Ponpes ini para kaum wanita
namun mereka diajarkan untuk hidup mandiri . Bukan hanya untuk belajar ilmu
agama saja , namun ilmu kehidupan juga diajarkan kepada para santri . Mereka
diajarkan untuk bagaimana membangun Pondok , memasak dan lain-lain . Sehingga
ketika mereka lulus atau keluar dari Ponpes itu , bisa benar-benar menjadi
santri yang mandiri dan tidak kalah dengan kaum laki-laki . Baik dari segi
pengetahuan agama dan juga ilmu lainnya , mereka benar-benar menjadi wanita
yang kelak bisa menjadi Ibu rumah tangga yang baik . Yang faham akan ilmu agama
dan bisa mengasuh anak-anak mereka menjadi anak-anak yang cerdas dan berguna
bagi nusa , bangsa dan agama .
Setelah selesai
melaksanakan Tugas yang diberikan , saya menjadi lebih tahu dan faham akan kehidupan
didalam Pondok pesantren . Saya belum pernah merasakan hidup didalam Pondok ,
baru kali ini saya bisa merasakan kehidupan didalam Pondok itu seperti apa . Dari
kecil sampai dewasa , saya hanya dimasukkan oleh orang tua ke dalam sekolah
yang hanya mencakup kegiatan belajar mengajar saja . Dan tidak sampai menginap
dan mempelajari ilmu agama secara mendalam , seperti mengkaji kitab kuning ,
memahami macam-macam kitab , mengkaji Al Qur’an dan lain-lain . Intinya ini
adalah pengalaman yang sangat berkesan untuk diri saya , satu hal lagi pengetahuan
yang tidak akan saya lupakan yaitu Bp. Badaruddin mengatakan bahwa di Pondok
pesantren manapun ada satu pembelajaran yang luntur dan hilang . Pembelajaran
tersebut adalah mempelajari arab pegon . Bp. Badaruddin mengatakan bahwa dizaman
sekarang , setiap Ponpes menafsirkan Al Qur’an hanya langsung terjemahannya
saja dan tidak menggunakan Arab pegon . Itu membuat ilmu yang dipelajari
didalam Pondok Pesantren menjadi berkurang .
Joss Yaa
BalasHapus