NAMA : HAMID ANJAR KASIH
KELAS : PBS 1 D
NIM : 175231125
MASJID TETANGGA
Terdapat
beberapa tema untuk diulas dan dijadikan narasi , tema tersebut meliputi :
masjid , tokoh agama , ritual islam dan budaya islam . Diantara beberapa tema
yang diberikan , saya lebih memilih tema masjid . Alasan saya memilih tema
masjid karena banyak sekali masjid dikota Solo ini , namun tidak satu pun yang
saya ketahui tentang sejarah maupun asal usul dan apa saja kegiatan yang
dilaksanakan . Observasi masjid pertama kali saya lakukan pada hari Senin
tanggal 18 september 2017 tepatnya pukul 15.30 di Masjid Agung , masjid yang
terkenal dan bersejarah di kota Solo . Saya sangat berharap dapat menggali
banyak sumber informasi dari masjid tersebut , namun keinginan untuk menggali
informasi itu sirna setelah bertemu dengan satpam atau security yang berada
disana . Saya bertanya kepada satpam tentang bagaimana cara menemukan informasi
dari masjid tersebut , lalu satpam
tersebut memberi arahan untuk bertemu takmir masjid pada hari selasa pukul 8
pagi atau bada sholat dzuhur . Satpam tersebut juga memberikan informasi bahwa
sudah ada beberapa mahasiswa IAIN yang datang ke Masjid Agung , saya berasumsi
bahwa kedatangan beberapa mahasiswa itu juga untuk menggali informasi dan
mengangkat masjid tersebut sebagai pilihan tema observasi mereka . Setelah
mengetahui hal tersebut , kemudian saya mencoba mencari masjid lain untuk
dijadikan tema . Bada sholat isya , saya mendatangi 3 masjid untuk berkencan
dengan takmir atau pengurus masjid . Ketiga masjid tersebut saya pilih karena
tempatnya tidak jauh dari rumah dan saya sebut dengan Masjid Tetangga . Masjid
pertama yang saya datangi yaitu masjid Al Hikmah , yang kedua yaitu masjid Al
Hidayah dan yang ketiga adalah masjid Muslimin . Dengan mendatangi 3 masjid ,
saya melakukan 3 kencan dengan 3 waktu yang berbeda . Kencan pertama yaitu bada
sholat dzuhur , kencan kedua bada sholat maghrib dan kencan ketiga bada sholat
ashar .
Berlanjut
pada hari Selasa tanggal 19 september 2017 kemudian saya mendatangi masjid
pertama yaitu masjid Al Hikmah untuk melakukan observasi , bada sholat dzuhur
saya menemui ketua takmir masjid tersebut . Bukan informasi yang saya peroleh
melainkan jawaban bahwa sudah ada salah seorang mahasiswa yang sudah melakukan
observasi di masjid itu , Saya diminta untuk meminta rekaman wawancara kepada
salah seorang mahasiswa tersebut namun saya tidak melakukan hal tersebut . Bada
sholat ashar saya melanjutkan observasi kedua di masjid Muslimin , saya sudah
melakukan wawancara dengan takmir masjid tersebut . Observasi ketiga saya
mengunjungi masjid Al Hidayah untuk melaksanakan sholat maghrib sekaligus
menepati janji kencan dengan pengurus masjid yang sudah dibincangkan pada hari
sebelumnya . Setelah selesai sholat maghrib saya menunggu pengurus masjid ,
namun bukan ketua takmir yang saya temui melainkan ketua nadzir yang dapat
memberikan informasi masjid . Saya melakukan wawancara dengan beliau karena
ketua takmir sudah pulang ke rumah . Sesudah menyelesaikan wawancara dengan
ketua Nadzir , saya diberi informasi untuk menggali lebih dalam tentang masjid
yang lebih bersejarah yaitu masjid Jamsaren yang berada dekat dengan Kecamatan
Serengan . Mendengar info tersebut , kemudian saya tertarik dan mendatangi
masjid Jamsaren untuk melakukan wawancara dengan pengurus masjid . Wawancara di
masjid Jamsaren sudah saya lakukan namun saya mendapat info bahwa sudah ada
beberapa mahasisiwi yang mengangkat tema masjid Jamsaren sebagai narasi mereka
. Setelah mendengar informasi tersebut , saya menjadi ragu untuk mengangkat
masjid Jamsaren menjadi tema pilihan . Sudah 5 masjid yang saya kunjungi untuk
observasi namun hanya 3 informasi yang didapat , dari 3 informasi masjid saya
lebih tertarik dengan masjid Al Hidayah karena banyak hal yang dapat saya
pelajari dari masjid tersebut .
Masjid
Al-Hidayah terletak di Jl.Honggowongso Kratonan , Serengan , Kota Surakarta .
Masjid ini berada didepan Tk.Kartini 2 , dan dekat dengan Kelurahan serta
Sekolah dasar . Masjid Al Hidayah dibangun pada tahun 1973 , diatas tanah yang
dimiliki oleh Bp. H.Ahmad Sahlan . Sebelum menjadi masjid , dulu Mushola ini
dibangun dengan ukuran yang kecil . Karena tanah di mushola ini sangat rendah ,
sehingga dikenal dengan nama kampung Ledokan . Awal dibangunnya mushola ini
yaitu dengan menguruk atau menambah
tanah agar permukaannya tidak rendah lagi , diuruk oleh Bp. H.Ahmad Sahlan agar
bisa dibangun menjadi mushola yang berukuran sekitar 5x5 meter . Penduduk
kampung disekitar mushola tersebut dulu terkenal dengan penduduk kampung yang
suka mabuk-mabukan , berjudi dan perbuatan yang dilarang oleh islam . Oleh
beliau Bp. H. Ahmad Sahlan dibangun Mushola Al Hidayah ini sehingga masyarakat
sekitar masjid bisa melaksanakan sholat dan kegiatan ibadah di mushola ini .
Awalnya hanya ada 5 orang saja yang sholat di mushola ini , setelah beberapa
lama jamaah masjid ini menjadi banyak . Pada tahun 1996 masjid ini berkembang
menjadi lebih baik dan tidak cukup lagi untuk menampung jamaah . Karena tidak
dapat menampung jamaah lagi , maka pada tahun
1997 dilakukan pembangunan ulang dengan menambah bangunan masjid menjadi 2
lantai . Dengan dilakukan pembangunan ulang maka ukuran masjid ini bertambah
yang sebelumya hanya berukuran 5x5 kemudian menjadi 10,5x10,5 meter dengan
memiliki 2 lantai , sehingga dapat menampung lebih banyak lagi jamaah .
Meskipun
lebih besar dari sebelumnya dan sudah dilakukan pembangunan ulang , namun masih
juga belum bisa menampumg jamaah masjid yang semakin bertambah . Untuk itu kembali dibangun halaman depan masjid agar
bisa menampung jamaah masjid yang sudah tidak bisa ditampung lagi , kemudian
halaman depan itu dikembangkan . Lalu ada tambahan lagi wakaf dari salah satu
putra pendiri masjid ini yaitu Bp. H.Muhammad Sam’an , memwakafkan tanah seluas
100 meter dibelakang yang digunakan untuk tempat parkir . Setelah dilakukan
pembangunan ulang 2 lantai dan mendapat tambahan wakaf dari salah satu anak
pendiri masjid , diperkirakan masjid ini dapat menampung sekitar 400 jamaah .
Wakaf masjid yang dibangun oleh Bp. H. Ahmad Sahlan dan Bp. H. Muhammad Sam’an
masih belum resmi di wakafkan kepada masyarakat sekitar . pada tahun 2012
ketika ibu Ahmad Sahlan meninggal dunia , masjid tersebut secara resmi
diwakafkan untuk masyarakat . Kemudian pada saat itu juga , Bp. H. Muhammad Sam’an
menambahkan kira-kira 90 meter dibelakang . Sehingga total keseluruhan luas
bangunan sekitar 350 meter .
Terdapat
banyak kegiatan yang dilaksanakan di masjid ini , ada kegiatan yang rutin dan
kegiatan yang dilaksanakan pada event-event tertentu . Kegiatan yang
dilaksanakan secara rutin yaitu : Yang pertama adalah Pengajian Ahad pagi yang
dilaksanakan pada pukul 6 sampai dengan pukul 7 yang dihadiri sekitar 200-250
orang .
kegiatan rutin yang kedua yaitu Pengajian yang
dilaksanakan pada hari Senin waktunya yaitu bada Maghrib sampai Isya oleh Bp.
Jumali Nur Ali S.Ag . Pengajian ini membahas tentang masalah tafsir , fiqih ,
adab dan lain-lain . Jadi pengajian ini dilaksanakan setiap hari senin ba’da
maghrib sampai isya dengan berganti materi . Yang ketiga adalah Pengajian yang
dilaksanakan pada hari Jum’at ba’da Maghrib sampai Isya , membahas tentang
bagaimana sholat yang benar dengan mengacu pada kitab Menhaji Muslim . Para
jamaah masjid Al Hidayah mempelajari kitab Menhaji muslim sebagai landasan bagaimana
sholat yang benar , dengan kajian ini para jamaah diharapkan semakin bertambah
ilmunya dalam hal ilmu agama . Karena ada masyarakat yang muallaf dan islam
sudah lama namun masih ada yang menyimpang . Kegiatan rutin selanjutnya yaitu
Tadarus Al Qur’an dilaksanakan setiap Kamis malam bada Isya sampai dengan pukul
sembilan . Tadarus ini dilakukan dengan berkelompok , setiap kelompok mendapat
bagian 1 juz . Tadarus ini dilaksanakan dengan pembagian kelompok yang terdiri
dari kelompok putra , putri , anak-anak putra dan anak-anak putri . Seperti hal
nya tadarus seperti biasa , untuk itu dilakukan dengan metode menyimak atau
mendengarkan orang yang sedang membaca . Apabila terdapat kesalahan dalam
membaca , maka dilakukan pembenaran bacaan oleh orang yang sudah pandai membaca
Al Qur’an dari setiap kelompoknya .
Kegiatan yang rutin sesuai event yaitu sholat Jum’at ,
kegiatan hari raya idul fitri , kegiatan idul adha , pengajian maulid nabi ,
nuzulul Qur’an dan lain-lain . Ada 14 item kegiatan yang diagendakan dan
dilaksanakan dalam bulan Romadhon , kegiatan tersebut meliputi : Kuliah bada
Subuh , Khataman Al Qur’an , Buka bersama , tadarus setiap malam , takbiran
sampai dengan aholat Iedul fitri . Sedangkan dalam event Iedul Adha , masjid Al
Hidayah juga melayani masyarakat islam sekitar masjid yang ingin melaksanakan
penyambelihan hewan Qurban . Beberapa tahun terakhir , masjid ini dapat
menyembelih 5 ekor sapi dan kurang lebih 10-15 ekor kambing . Kemudian daging
hewan penyembelihan tersebut dibagikan ke 8-10 Rt yang berada disekitar masjid
. Sudah beberapa tahun terakhir masjid ini dapat menyembelih 5 ataupun 6 ekor
sapi namun yang paling sering yaitu menyembelih 5 ekor sapi .
Masyarakat Islam
dikampung sekitar masjid Al Hidayah dihitung kira-kira relatif lebih banyak
yang mampu dari pada yang tidak mampu . Namun semua itu tergantung kesadaran
diri dari masing-masing tentang apakah dia bisa berqurban atau tidak dan mau
apa tidaknya tergantung masyarakatnya .
Selain Pengajian dan kegiatan yang dilaksanakan setiap
ada event , di masjid ini juga ada
kegiatan TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an) . Jumlah Siswa TPA tercatat sekitar
50-60 anak , kegiatan TPA rutin dilaksanakan setiap sore mulai dari hari senin
sampai dengan hari Jum’at , pada hari Sabtu dan Minggu TPA diliburkan .
Kegiatan TPA ini sudah ada sejak masjid ini belum dibangun ulang , semenjak
dibangun mushola ini , selang beberapa lama langsung dirintislah TPA . Sudah
lama TPA ini dilaksanakan sampai dengan beberapa generasi , hingga kini TPA
masjid Al Hidayah masih istiqomah dan masih dilaksanakan . Semua itu tidak
luput dari kerja sama dari berbagai pihak yang sangat mendukung kegiatan ini
berlangsung .
Di masjid Al Hidayah ini juga terdapat remaja masjid
sebagai elemen pembantu terlaksananya setiap kegiatan yang dilaksanakan di
masjid . Nama remaja masjid nya yaitu REMAHID (Remaja Masjid Al Hidayah) .
Untuk jumlah remajanya tidak pasti ,
karena mereka datang hanya pada event-event tertentu saja . Mereka datang pada
event tertentu dikarenakan status mereka sebagai pelajar yang lebih banyak
menghabiskan waktu untuk mengurusi pendidikan dari pada mengikuti kegiatan di
masjid . Dulu pernah diadakan hadrah untuk mengisi kegiatan remaja masjid namun
berhenti karena bosan dan kegiatan itu tidak berjalan lagi . Remaja masjid
biasanya mengadakan wisata religi setiap tahunnya ke tempat bersejarah islam ,
namun kegiatan ini tidak nerjalan secara rutin . Tergantung ada remaja yang
berinisiatif untuk menggerakkan remaja yang lain agar melaksanakan kegiatan ini
atau tidak .
Jumlah pengurus atau Takmir masjid Al Hidayah berkisar
20-25 orang dengan diketuai oleh Bp. H.Muhammad Rofi’i , sedangkan pengurus
yang menjadi narasumber saya yaitu Bp. Yusuf
yang menjabat sebagai ketua Nadzir . Nadzir adalah orang yang diberi
kepercayaan oleh almarhum yang mewakafkan masjid untuk meneruskan perjuangan
untuk menjaga , mengurus dan memakmurkan masjid , serta melaksanakan setiap
kegiatan yang telah diamanahkan oleh pewakaf
kepada ahli waris agar bisa dilaksanakan setelah pewakaf itu sudah
meninggal dunia .
Nadzir di masjid Al
Hidayah berjumlah 5 orang dan diketuai oleh Bp. Yusuf , Untuk itu Nadzir
membentuk Takmir supaya kegiatan di masjid dapat berjalan dengan lancar dan
mudah karena dilakukan secara bersama-sama . Takmir bersifat heterogen , jadi
para Nadzir berupaya agar kegiatan masjid dapat berjalan dengan baik dan lancar
jika dilakukan bersama–sama .
Model bangunan masjid Al Hidayah tergolong model bangunan
yang biasa saja , tidak berkiblat kemana–mana . Sejak pertama kali dirombak
sejak tahun 1997 , sudah seperti ini . Menurut bapak Yusuf jendela-jendela masjid seperti jendela masjid
Amal Bakti Muslim Pancasila , sudut-sudutnya bukan bentuk atau model sudut
bangunan lama . Jadi masjid ini tergolong ke dalam masjid dengan model bangunan
baru , sesudah itu pada tahun 2009 ada sedikit perubahan dikubah dan ada
dekorasi sedikit tulisan corak-corak tulisan arab atau kaligrafi .
Saya melakukan observasi di masjid ini pada hari Selasa
bada sholat Maghrib , pada hari sebelumnya saya datang di masjid ini bada Isya
dan bertemu dengan ketua Takmir masjid . Kami melakukan kencan bahwa besok hari
Selasa akan dilaksanakan wawancaranya . Setelah hari Selasa , saya tidak
bertemu dengan Bp. H. Muhammad Rofi’i . Justru saya bertemu dengan narasumber
lain , seorang ketua nadzir masjid Al Hidayah yaitu Bp. Yusuf .
Banyak
hal yang dapat saya pelajari dari masjid ini . Mulai dari sejarah dibangunnya
masjid , pendiri masjid , perkembangan
luas pembangunan masjid , kampung yang
terkenal dengan kampung Ledokan karena
tanah nya yang rendah , kondisi masyarakat sebelum dibangun mushola , kondisi
masyarakat setelah dibangun mushola hingga menjadi masjid . Kerja sama dari
berbagai pihak mulai dari nadzir , takmir , remaja masjid , masyarakat sekitar
masjid dan juga anak-anak sebagai generasi penerus yang akan memakmurkan masjid
juga sangat diperlukan untuk mempermudah dalam pelaksanaan setiap kegiatan masjid
. Kemakmuran masjid tergantung dari masyarakat sekitar yang mau ikut serta
berperan dalam memakmurkan dan meramaikan masjid , kitab Menhaji Muslim yang dipelajari jamaah masjid sebagai pedoman untuk
melaksanakan sholat yang baik dan benar dalam tema pengajian .
Kegiatan-kegiatan yang
rutin dilaksanakan membuat masjid yang pada dasarnya berfungsi sebagai tempat
ibadah menjadi benar-benar hidup dan makmur sebagai tempat berdakwah dan syiar
agama islam . Sebelum melakukan wawancara , saya melaksanakan sholat maghrib di
masjid Al Hidayah ini . hal yang saya rasakan saat melaksanakan ibadah disini
yaitu kenyamanan , tidak merasa gerah , aroma udaranya tidak bau karena ada
wangi-wangian . Demikianlah ulasan yang dapat saya sampaikan mengenai tema masjid
yang saya pilih .